Raihlah Hakikat Jangan Abaikan Syariat

3 Nov

Raihlah Hakikat Jangan Abaikan SyariatJudul Buku : Raihlah Hakikat Jangan Abaikan Syariat

Judul Asli : adab as-Suluk wa at-Tawasshul ila Manazil al-Muluk

Pengarang : Syaikh Abdul Qadir Al Jailani

Harga : Rp 49.000,00

Ukuran: 13,5 x 21 cm, Hardcover

Tebal: 252 hlm

Penerbit: Pustaka Hidayah

ISBN: 978-979-1096-49-2

Dalam buku ini pembaca akan menemukan bahwa Imam al-Jailani r.a. senantiasa menekankan satu prinsip yang paling mendasar, yakni bahwa puncak tujuan hanya bisa dicapai melalui jalan syariat. Dengan demikian, hukum-hukum syariat dan akidah kaum salaf, dalam pandangannya, merupakan lubuk sekaligus ufuk tasawuf.

Menurut Imam al-Jailani seseorang bisa disebut sebagai ahl-al-haq wa al-wusul hanya jika lahirnya berpegang teguh pada syariat yang benar, baik perintah maupun larangan dan batinnya senantiasa bertindak sesuai bashirah. Dengan bashirah itulah ia senantiasa melihat teladannya, yakni Rasulullah saw, sehingga pada posisinya kemudian, Nabi saw menjadi perantara antara Allah Ta’ala dengan ruhani serta jasmaninya. Dari keadaan ini ia akan mendapatkan petunjuk bagi dirinya dan bagi murid-murid yang menempuh jalan spiritual sehingga mereka melakukan perjalanan spirtualnya tidak dalam keadaan buta. Pada posisi inilah terdapat tanda-tanda keistimewaan yang hanya bias ditemukan oleh sedikit orang.
“Pada lembaran-lembaran buku ini, saya telah menemukan etika perjalanan (as-suluk) dan hakikat tujuan hidup yang dapat memudahkan para penempuh jalan spritual untuk memantapkan langkah kakinya dalam mencapai kehidupan yang baik, hati yang kokoh dan jiwa yang tenteram; berjalan di atas jalan yang lurus dan tidak terperangkap dalam jebakan jalan-jalan bercabang yang menyesatkan.”
-—M. Zakariyya az-Za’im, Editor karya-karya Syaikh Abdul Qadir al-Jailani.
“Syaikh Abdul Qadir al-Jailani r.a. adalah seorang tokoh paling besar di zamannya yang berusaha menegakkan syariat, al-amr dan an-nahy. Beliau adalah tokoh yang paling sering menyuruh agar meninggalkan hawa nafsu dan semua hal yang cenderung kepadanya.”
–Syaikh al-Islam Ibn Taimiyah, dalam Mahmu’ al-Fatawa.
Syaik Abdul Qadir Al-Jailani r.a berkata :
“Janganlah memohon sesuatu dari Allah Swt kecuali pengampunan atas dosa yang telah lalu, dan perlindungan dari dosa pada hari-hari yang akan datang, bimbingan agar tetap taat dan menunaikan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, rela atas ketentuan-Nya, sabar atas ujian yang diberikan-Nya, syukur atas berbagai nikmat dan anugerah-Nya, dan memohon wafat dalam keadaan baik, mengikuti para nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih. Betapa indahnya teman seperti mereka.
Janganlah meminta dari-Nya dunia, kefakiran diubah menjadi kaya, sakit menjadi sehat, tetapi harus ridha atas apa yang diberikan-Nya dan renungkanlah. Dan mohonlah kepada-Nya agar senantiasa menjaga keadaanmu, sampai Allah mengubahnya kepada keadaan yang lain sesuai kehendak-Nya. Karena engkau sendiri tidak tahu mana yang lebih baik di antara keduanya, apakah dalam kefakiran atau kekayaan, sakit atau sehat. Semuanya di luar pengetahuanmu. Hanya Allah Yang Mengetahui baik buruknya semua itu.
Telah diriwayatkan dari Umar bin Khaththab r.a.: “Aku tidak peduli dalam keadaan apa aku menjalani hariku, dalam keadaan yang aku sukai atau yang tidak aku sukai, karena aku tidak tahu mana yang lebih baik bagiku di antara keduanya.” Beliau mengatakan hal itu karena keridhaannya atas pengaturan Allah atasnya, dan ketenangannya atas pilihan dan ketentuan-Nya.
Allah Swt berfirman : “Diwajibkan atas kalian berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kalian benci. Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik bagi kalian, dan boleh jadi (pula) kalian menyukai sesuatu padahal ia buruk bagi kalian. Allah Mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.”(QS [2]:216).
Jadilah orang yang berada dalam keadaan seperti ini hingga nafsu hilang dari dirimu, egomu hancur sehingga ia tunduk patuh kepadamu. Lalu hilang juga ambisi dan angan-anganmu, dan keluarlah segala sesuatu yang sifatnya ciptaan dari dalam hatimu. Tidak ada apapun yang tersisa dalam hatimu kecuali Allah Swt. Sehingga hatimu penuh dengan cinta kepada Allah, kehendakmu benar-benar memohon kepada-Nya. Lalu kehendakmu dikembalikan kepadamu, kemudian Dia memerintahkan kepadamu untuk meminta bagianmu baik duniawi maupun ukhrawi. Maka ketika itulah permohonanmu kepada-Nya semata-mata karena menunaikan perintah dan persetujuan Allah Swt.
Apabila engkau diberi anugerah, maka engkau mensyukuri dan menikmatinya. Dan jika engkau belum diberi, engkau tidak marah kepada-Nya, batinmu tidak berubah, dan tidak menyalahkan-Nya. Karena engkau memohon kepada-Nya tidak dengan hawa nafsu dan kehendakmu, karena hatimu kosong dari semua itu kecuali keinginan kepada-Nya, bahkan menunaikan perintah-Nya untuk meminta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: