Strategi Sufistik Semar: Aksi Kaum Santri Merebut hati Rakyat

4 Nov

Strategi Sufistik SemarJudul Buku : Strategi Sufistik Semar: Aksi Kaum Santri Merebut hati Rakyat

Penulis : DR Abdul Munir Mulkhan

Penerbit : Kreasi Wacana 2004

Jumlah Halaman : xiv + 330 hlm.

Harga : Rp  50,000

SEMAR dalam buku ini diberi arti sebagai simbol sang tokoh yang telah melampaui batas-batas legal hukum dan mekanisme empirik, tetapi juga akronim bagi kaum santri yang telah mampu melampaui batas-batas wilayah kehidupan yang empirik dan positifistik. Dalam arti itulah kehadiran Semar menandai suatu era baru akan berakhirnya krisis dan chaos. Namun kehadiran Semar juga menjadi pertanda makin hilangnya kepercayaan rakyat terhadap penguasa dan makin hilangnya harapan akan perbaikan keadaan.

Di saat yang sama kehadiran Semar menandai datangnya harapan seperti akan datangnya Ratu Adil dalam tradisi Jawa atau Al Mahdi dalam tradisi Islam, sebuah harapan messianic-mileniaris ketika secara empirik hampir tak ada teori yang mampu memecahkan persoalan kemanusiaan yang muncul dalam kehidupan sosial-politik. Secara politik, Semar bertindak sebagai mediator politik. Posisi mediator tidak hanya dalam hubungan antar kelompok politik, tetapi juga antar-kekuasaan metafisis dewata dengan kekuasaan dalam dimensi sosiologis kemanusiaan yang ada pada dinamika kepemimpinan nasional. Dalam konteks ini, Semar merupakan lembaga yang berfungsi sebagai penasihat spiritual setiap kekuasaan yang adil dan demokratis, yang sekali waktu bisa berubah menjadi kekuataan riil yang mampu mengontrol jalannya kekuasaan sehingga menjadi lebih adil, demokratis dan manusiawi. Dan posisi strategis Semar dalam hubungan kekuasaan inilah yang perlu dijadikan rujukan bagi kaum Santri.

Secara sosiologis kaum Santri merupakan minoritas di antara mayoritas penduduk yang memeluk agama Islam di negeri ini. Secara nominal jumlah para aktivis gerakan Islam, yang mempunyai sebutan terkenal sebagai kaum santri, sulit sekali menyadari bahwa dirinya adalah kaum misionaris di antara pemeluk Islam di negeri ini. Kaum santri ini hampir selalu gagal menempatkan diri sebagai bagian dari mayoritas pemeluk Islam yang merupakan mayoritas penduduk. Sebaliknya, kaum santri justru cenderung menempatkan mayoritas sebagai bagian minoritas. Memang terdapat nilai-nilai integratif antara komunitas yang mayoritas dan yang minoritas yaitu sebuah pengakuan formal bahwa keduanya memeluk agama Islam. Dari nilai integratif inilah sebenarnya sebuah strategi budaya bisa dikembangkan. Dan buku ini adalah upaya untuk mengembangkan strategi itu menjadi aksi konkret yang mengedepankan nilai-nilai humanistik dan menghargai pluralisme.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: