Allah di Mata Sufi

5 Nov

allah di mata sufiJudul Buku : Allah di Mata Sufi

Penulis : Imam Al-Qusyairi Al-Naisaburi

Penerbit : Atmaja

Harga : Rp 24.000,00

Karya al-Qusyairi dalam buku ciptaanya yang berjudul al-Tahbir fi al-Tadzkir mempunyai keistemawan dan keunikan tersendiri. Dari segi urutan nama-nama Allah, ia memasukkan: Allah, la ilaha illa Allah, Huwa, al-Jamil, serta al-Kafi, sedangkan al-Rahman dan al-Rahim tidak dimasukkan.

Kondisi manusia modern – sebagaimana digambarkan oleh Dr. Rollo May, seorang psikoanalis – telah mengalami keadaan yang dianggap sebagai “kehampaan spiritual orang modern”. Sehingga T.S. Elliot, dalam bait-bait puisinya dengan tepat menggambarkan:

Kami adalah orang-orang hampa

Yang hidup dalam kesesakan

Kepada kami berselubung jerami. Sayang!

Dibentuk tanpa bentuk, dinaungi tanpa warna

Kekuatan-kekuatan kami timpang.

Kehampaan spiritual ini, disebabkan manusia, meskipun tahu tentang Allah, namun ia belum mengenal-Nya secara mendalam. Nah, al-Qusyairi, sekali lagi mengajak menjelajahi “ruang angkasa” nan jauh ke sana, di mana kita akan menyaksikan sembilan puluh sembilan planet yang indah dan mempesona. Semakin kita melangkah demi selangkah jiwa kita terus-menerus merasakan sebuah pengalaman spiritual yang luar biasa. Mungkin Anda akan tersentak, ketika di planet setiap nama-Nya, Dia menyapa kita dan siap sepenuhnya menjadikan hamba Allah. Segala-segalanya dari, bagi dan untuk Allah. Kemudian “planet-planet” itu menjadikan dirinya sebagai “instrumen”-Nya untuk mewujudkan 99 nama-Nya itu dalam kehidupan sehari-harti.

Yang menjadikan  buku al-Tahbir fi al-Tadzkir istimewa adalah al-Qusyairi, mengajak kita untuk lebih akrab dengan Allah serta memahami nama-nama-Nya. Sehingga, kita tidak saja membaca dan menghafal nama-nama Allah, namun lebih dari itu adalah mengenal-Nya. Kata “mengenal” inilah yang lebih ditekankan al-Qusyairi. sebab, meski kita mengaku percaya kepada Allah, belum tentu kita mengenal dan memahami-Nya.

Isi yang terkandung dalam al-Tahbir fi al-Tadzkir adalah pemikiran asasi tentang pengkajian Asma dan Sifat Ilahiah.

Dr. Ibrahim Basuni, Ia adalah peneliti dan peminat Tasawuf,  Saat menyelesaikan Master dan Doktornya di Universitas Mesir dalam bidang tasawuf , Beliau menghabiskan waktunya selama dua tahun di Uni Sovyet dan juga berkunjung ke Berlin dan Konstantinopel (Istambul, Turki) untuk mendalami dan menelusuri peninggalan-peninggalan al-Qusyairi. Pada saat itulah  Beliau menemukan manuskrip  al-Tahbir fi al-Tadzkir. Ia menyunting dan memberi anotasi-anotasi berharga untuk naskah ini.

Buku al-Tahbir fi al-Tadzkir – untuk edisi  Indonesianya, Allah di Mata Sufi: Penjelajahan Spiritual bersama Asma al-Husna – (diterjemahkan oleh Sulaiman al-Kumayi, MA; Penerbit ATMAJA –Jakarta; 2003).Asalnya merupakan hasil editing dari dua naskah. Naskah pertama terdapat di perpustakaan Negara Mesir, dan Naskah yang kedua ditemukan di Perpustakaan al-Firdausi, di kota Dusyambih, Uni Sovyet. Isi naskah kedua – versi Uni Sovyet – lebih sempurna dari naskah pertama, versi Mesir.

Al-Qusyairi melakukan analisis al-Asma al-Husna (Nama-nama indah dan Agung) dengan merujuk urutan yang tercantum dalam hadis riwayat Abu Hurairah r.a.; Rasulullah s.a.w. bersabda: “Bagi Allah dan sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, sungguh Dia adalah ganjil, menyukai yang (ganjil), barang siapa yang menghafalnya, berhak masuk surga”.

Adapun urutan nama-nama tersebut sebagai berikut:

  1. Al-Rahmaan              : Yang Maha Pengasih
  2. Al-Rahiim                  : Yang Maha Penyayang
  3. Al-Malik                    : Maha Raja / Yang Maha Berkuasa
  4. Al-Qudduus               : Yang Maha Suci
  5. Al-Salaam                  : Yang Maha Sejahtera
  6. Al-Mukmin                 : Yang Maha Terpercaya
  7. Al-Muhaimin              : Yang Maha Memelihara
  8. Al-Aziiz                      : Yang Maha Perkasa
  9. Al-Jabbaar                 : Yang Kehendak-Nya tidak diingkari
  10. Al-Mutakabbir            : Yang Memiliki Kebesaran
  11. Al-Khaaliq                  : Yang Maha Pencipta
  12. Al-Baari’                    : Yang Mengadakan dari tiada
  13. Al-Mushawwir            : Yang Membuat Bentuk
  14. Al-Ghaffaar                 : Yang Maha Pengampun
  15. Al-Qahhaar                 : Yang Maha Perkasa
  16. Al-Wahhaab                : Yang Maha Pemberi
  17. Al-Razzaaq                  : Yang Memberi Rezeki
  18. Al-Fattaah                    : Yang Maha Pembuka
  19. Al-Aliim                       : Yang Maha Mengetahui
  20. Al-Qaabidh                  : Yang Maha Menyempitkan
  21. Al-Baasith                    : Yang Maha Melapangkan
  22. Al-Khaafidh                 : Yang Merendahkan
  23. Al-Raafi’                      : Yang Meninggikan
  24. Al-Mu’iz                      : Yang Memuliakan
  25. Al-Mudzil                     : Yang Menghinakan
  26. Al-Samii’                      : Yang Maha Mendengar
  27. Al-Bashiir                     : Yang Maha Melihat
  28. Al-Haqam                     : Yang Memutuskan Hukum
  29. Al-‘Adl                         : Yang Maha Adil
  30. Al-Lathiif                       : Yang Maha Lembut
  31. Al-Khabiir                     : Yang Maha Mengetahui
  32. Al-Haliim                       : Yang Maha Penyantun
  33. Al-‘Azhiim                     : Yang Maha Agung
  34. Al-Ghafuur                     : Yang Maha Pengampun
  35. Al-Syakuur                     : Yang Maha Menerima Syukur
  36. Al-‘Aliy                          : Yang Maha Tinggi
  37. Al-Kabiir                         : Yang Maha Besar
  38. Al-Hafiizh                        : Yang Maha Pemelihara
  39. Al-Muqiit                        : Yang Memberi Kekuatan
  40. Al-Hasiib                         : Yang Maha Mencukupi / Yang Maha Pembuat Perhitungan
  41. Al-Jaliil                            : Yang Maha Luhur
  42. Al-Kariim                        : Yang Maha Mulia
  43. Al-Raqiib                         : Yang Maha Mengawasi
  44. Al-Mujiib                         : Yang Maha Memperkenankan
  45. Al-Waasi’                        : Yang Maha Luas
  46. Al-Haqiim                        : Yang Maha Bijaksana
  47. Al-Waduud                      : Yang Maha Mencintai / Mengasihi / Yang Maha Dicintai
  48. Al-Majiid                         : Yang Maha Mulia
  49. Al-Baa’its                         : Yang Membangkitkan
  50. Al-Syahiid                        : Yang Maha Menyaksikan
  51. Al-Haq                             : Yang Maha Pasti / Benar
  52. Al-Wakiil                          : Yang Maha Memiliki / Pemelihara
  53. Al-Qawiy                          : Yang Maha Kuat
  54. Al-Matiin                           : Yang Maha Kokoh
  55. Al-Waliy                            : Yang Maha Melindungi
  56. Al-Hamiid                          : Yang Maha Terpuji
  57. Al-Muhshii                         : Yang Maha Menghitung
  58. Al-Mubdi-u                        : Yang Maha Memulai
  59. Al-Mu’iid                           : Yang Maha Mengembalikan
  60. Al-Muhyi                            : Yang Maha Menghidupkan
  61. Al-Mumiit                           : Yang Maha Mematikan
  62. Al-Hayy                              : Yang Maha Hidup
  63. Al-Qayyuum                       : Yang Maha Berdiri Sendiri
  64. Al-Waajid                           : Yang Maha Menemukan
  65. Al-Maajid                           : Yang Maha Mulia
  66. Al-Waahid                          : Yang Maha Esa
  67. Al-Ahad                             : Yang Maha Esa
  68. Al-Shamad                         : Yang Maha Dibutuhkan
  69. Al-Qaadir                           : Yang Maha Kuasa
  70. Al-Muqtadir                        : Yang Maha Kuasa
  71. Al-Muqaddim                      : Yang Maha Mendahulukan
  72. Al-Muakhkhir                      : Yang Mengakhirkan
  73. Al-Awwal                            : Yang Pertama
  74. Al-Akhir                              : Yang Terakhir
  75. Al-Zhaahir                           : Yang Maha Nyata
  76. Al-Baathin                           : Yang Maha Tersembunyi
  77. Al-Wali                                : Yang Maha Memerintah
  78. Al-Muta’aal                         : Yang Maha Tinggi
  79. Al-Barr                                : Yang Maha Dermawan
  80. Al-Tawwaab                        : Yang Maha Penerima Tobat
  81. Al-Muntaqim                       : Yang Maha Pengancam
  82. Al-‘Afuww                          : Yang Maha Pemaaf
  83. Al-Ra’uuf                            : Yang Maha Pelimpah Kasih
  84. Maalik al-Mulk                    : Pemilik Kerajaan
  85. Dzuul al-Jalaal wa al-Ikraam : Pemilik Keluhuran dan Kemurahan
  86. Al-Muqsith                           : Yang Maha Adil
  87. Al-Jaami’                             : Yang Maha Penghimpun
  88. Al-Ghaniyyu                         : Yang Maha Kaya
  89. Al-Mughni                            : Pemberi Kekayaan
  90. Al-Maani’                            : Yang Maha Mencegah
  91. Al-Dhaarr                            : Yang Memberi Derita
  92. Al-Naafi’                             : Yang Memberi Manfaat
  93. Al-Nuur                               : Yang Maha Pemberi / Pemilik Cahaya
  94. Al-Haadi                              : Yang Maha Pemberi Petunjuk
  95. Al-Badii’                              : Pencipta Pertama
  96. Al-Baaqi                              : Yang Maha Kekal
  97. Al-Waarits                           : Yang Maha Mewarisi
  98. Al-Rasyiid                           : Yang Maha Tepat Rindakann-Nya
  99. Al-Shabuur                          : Yang Maha Penyabar

Metode dan Pendekatan al-Qusyairi

Metode yang ditempuh al-Qusyairi dalam mengkaji nama-nama dan sifat-sifat Ilahiah dimulai dengan aspek kebahasaan.. Ia menguraikan arti dari kata asal yang digunakan untuk nama dan sifat itu, kemudian dihubungkan dengan arti yang ditimbulkan oleh perpindahan lafaz dari pemakaian yang asli ke pemakaian lain akibat perkembangan bahasa.

Metode yang ditempuhnya ini menghasilkan sejumlah makna yang luas dan bercabang serta menghasilkan suatu hal yang penting yang merupakan tujuan penulisan buku tersebut.

Dengan demikian al-Qusyairi lebih menekankan pada pengamalan dari sesuatu yang dikenal. Ia sendiri sebagai penganut sufi, berkali-kali menekankan bahwa amal perbuatan manusia merupakan kunci utama untuk membuka pintu makrifat.

Untuk mengembalikan nama dan sifat Ilahiah pada satu atau lebih banyak lagi istilah yang disebutkan, al-Qusyairi berusaha menempuh jalan, mendudukkan sesuatu berdasar pada asal-usulnya yang urgen.

Nama Zat:

Nama itu adalah Allah, nama Zat Swt, tidak dinamakan dengan nama itu, kecuali untuk Dia, nama itu tempat bergantung, bukan tempat untuk berbudi.

Sifat Zat:

Misalnya al-Baaqii (Yang Maha Kekal), ini adalah sifat dari sifat Zat. Diwajibkan menjadi tujuan utama dalam makrifatserta pengenalan bagi makhluk ciptaan-Nya. Tidak diperbolehkan bagi makhluk untuk bersifat dengan sifat-sifat Zat al-Haq; tidaklah bagi makhluk berilmu dengan ilmu al-Haq; tidak pula berqudrat dengan qudrat-Nya, tidak mendengar dengan pendengaran-Nya, tidak melihat dengan penglihatan-Nya, tidak hidup dengan hidup-Nya, dan tidak kekal dengan kekekalan-Nya. Sebab, sifat Qadim (lawan baru) tidak dapat menjadi lawan zat yang hadis (baru) sebagaimana tidak layak sifat Hadis berdiri dengan zat Qadim…dan inilah inti Tauhid (pengesaan).

Sifat Perbuatan:

Misalnya nama Allah; al-Wahhaab dan al-Waahib.  Al-Wahhaab (Pemberian yang berlebih-lebihan daripada-Nya) dan Al-Waahib (Maha Pemberi), merupakan sifat perbuatan.

Al-Qusyairi berpendapat, bahwa satu sifat adakalanya menjurus ke arah zat, kadang-kadang pada perbuatan dan adakalanya pula diartikan menurut kelaziman takwil (pemecahan kalimat). Sifat al-Jabbaar (Maha Kuasa memaksakan kehendak-Nya), pemakaiannya berasal dari sifat pokok korma yang tinggi, kokoh, dan tidak mudah goyah, walau didorong atau ditarik. Maka, pengertiannya adalah Hak Allah tidak dapat diraih oleh tangan perkasa serta tidak dapat ditolak oleh para penantang. Dengan demikian al-Jabbaar, yang memberitakan tentang Kebesaran dan Keperkasaan wujud-Nya, menjadi sifat zat.

Cara yang ditempuh oleh al-Qusyairi dalam buku al-Tahbir fi al-Tadzkir sangat berharga dan berbeda, bahkan tidak ternilai betapa besar manfaat yang dapat diambil oleh seorang sufi yang sedang menempuh latihan membiasakan zikir nama-nama Allah Swt. Zikir yang diawali dengan lisan secara berulang-ulang kemudian masuk dan meresap ke dalam hati. Maka yang paling utama adalah zikir yang terbina oleh pengertian dalam renungan arti yang terkandung di dalamnya dan diikuti oleh tindak budi pekerti dan pengamalan.

Bagi seorang sufi, setelah membaca al-Tahbiir akan mendapati di hadapannya lapangan luas untuk memahami sesuatu yang diulang-ulang oleh lisannya (zikir) dan akan membentuk amal perbuatannya menjadi sesuatu sangat berharga, yang bersifat makrifat, dan sangat besar pengaruhnya dalam menempuh suluk, dan insya Allah dapat diharapkan menjadi pembina perangai serta akhlaknya.

Bagi seorang guru sufi, sudah menjadi cara yang lazim kalau ia itu menekankan kepada para murid asuhannya, bahwa yang paling ringan dari berbagai macam berzikir adalah zikir lisan. Dalam sebuah syair sufi dikemukakan:

Kuingat Engkau bukan karena lalai,

Walau sekejap mata sekalipun

Dan yang paling ringan dalam berzikir,

Adalah gerak lidah, zikir lisan.

Yang dikedepankan dan memperhatikan khusus al-Qusyairi adalah Asma Allah yang mempunyai kekuatan berupa dorongan, dan memperoleh tempat khusus di dalam masyarakat sufi, misalnya:

Al-Haq            : Yang Maha Besar / Pasti

Al-Maliyu        : Yang Maha Penolong

Al-Muhyi         : Yang Maha Menghidupkan

Al-Baadi’        : Pencipta Pertama

Al-Jamiil          : Yang Maha Indah

Al-Jaliil            : Yang Maha Agung

Nama-nama Allah Swt yang paling sering dipakai oleh para sufi adalah al-Haq. Pemakaian ini ada kaitannya dengan taraf perkembangan spiritual mereka yang matang, dari penyaksian ‘perbuatan’ ke penyaksian sifat, dari penyaksian sifat ke penyaksian zat. Bagi mereka yang telah mengenal, dalam arti pengenalan makrifat, sudah tentu mengetahui, bahwa Dialah yang mempunyai hak itu dan sudah seharusnya mengutamakan hak Allah daripada hak dirinya sendiri.

Kepada Anda akan dijelaskan tentang “rahasia ketiadaan” tersembunyi yang belum pernah terlintas dalam pemikiran seorang pun, kelembutan dan kehalusan bekas-bekas hikmah kebijaksanaan, dan keajaiban-keajaiban yang berkaitan kekuasaan-Nya. Akan diuraikan juga hal-hal yang menjadikan hati bergembira, yang dibuahkan dari kekhusyukan akan “penyaksian Rubbubiyah” dengan menyirnakan shubhat.

Dalam petuahnya, al-Qusyairi berkata: “Sekiranya seorang sufi menghimpun budi pekerti dengan kebaikan-kebaikan niscaya mendapat dukungan menuju fana dan menghilangkan bekas-bekas selain Allah dan akan lebih lancar dan mempercepat langkah menuju gerbang Hadirat Ilahi”.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: